Pare, Kediri - Jawa Timur

Menjadi Masinis Kereta di Jepang: Antara Profesi Elite dan Peluang Baru bagi Warga Indonesia

Thumbnail Menjadi Masinis Kereta di Jepang: Antara Profesi Elite dan Peluang Baru bagi Warga Indonesia

Menjadi Masinis Kereta di Jepang: Antara Profesi Elite dan Peluang Baru bagi Warga Indonesia, Mau tahu lebih lanjut?Mari kita pelajari bersama!   

Profesi masinis kereta di Jepang, terutama untuk Shinkansen (kereta peluru), selama ini dikenal sebagai salah satu pekerjaan paling bergengsi dengan standar tinggi. Namun, Jepang saat ini sedang menghadapi krisis kekurangan tenaga kerja yang parah di sektor perkeretaapian. Hal ini membuka celah, meskipun masih sempit, bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia, untuk berkarir di bidang ini.

Standar Tinggi Profesi Masinis di Jepang

Menjadi masinis kereta di Jepang bukanlah pekerjaan yang bisa diraih dalam waktu singkat. Untuk menjadi masinis Shinkansen saja, seorang kandidat harus melalui proses yang panjang dan ketat. Sebelum mengemudikan kereta peluru, seseorang harus memiliki pengalaman minimal 10 tahun sebagai masinis kereta biasa. Setelah itu, mereka harus menjalani pelatihan khusus selama satu tahun penuh dan lulus berbagai ujian sebelum akhirnya resmi menjadi masinis Shinkansen.

Disiplin dan presisi adalah inti dari profesi ini. Sebuah insiden pada tahun 2021 menunjukkan betapa ketatnya standar yang berlaku: seorang masinis Shinkansen diselidiki dan mendapat sanksi karena meninggalkan kabin kemudi selama tiga menit untuk pergi ke toilet, yang menyebabkan keterlambatan satu menit dari jadwal. Insiden ini menggarisbawahi bahwa di Jepang, keterlambatan sekecil apapun sangat diperhatikan, dan tanggung jawab masinis sangat besar.

Krisis Kekurangan Tenaga Kerja dan Peluang bagi Warga Asing

Di balik standar tinggi tersebut, Jepang saat ini sangat kekurangan masinis. Pada Oktober 2023, survei Kementerian Transportasi menunjukkan bahwa 77 dari 172 operator kereta api melaporkan kekurangan pengemudi. Akibatnya, banyak masinis harus bekerja lembur 30-40 jam per bulan, dan beberapa perusahaan bahkan terpaksa mengurangi jadwal perjalanan karena kekurangan staf.

Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah Jepang mengambil langkah-langkah strategis. Pada Maret 2024, sektor perkeretaapian secara resmi ditambahkan ke dalam program Specified Skilled Worker (SSW) (Pekerja Terampil Spesifik). Dengan status visa SSW (Kategori I), pekerja asing dapat tinggal dan bekerja di Jepang hingga lima tahun dan dapat memperpanjang masa tinggalnya jika telah mencapai tingkat keterampilan yang lebih tinggi (Kategori II). Pemerintah menargetkan untuk menerima hingga 820.000 pekerja asing di berbagai sektor, termasuk perkeretaapian, antara tahun 2024 hingga 2028.

Peluang untuk Warga Indonesia

Bagi warga Indonesia, peluang untuk terlibat dalam industri perkeretaapian Jepang mulai terbuka, meskipun dengan beberapa catatan penting.

  1. Program Pelatihan JR East: East Japan Railway Company (JR East) telah memelopori program pelatihan bagi pekerja asing dalam pemeliharaan perkeretaapian. Pada tahun 2026, 113 peserta dari empat negara, termasuk Indonesia dan Vietnam, mengikuti pelatihan selama sebulan di Pusat Pelatihan JR East di Fukushima. 
  2. Fokus pada Pemeliharaan, Bukan Mengemudi (Saat Ini): Penting untuk dicatat bahwa program-program yang ada saat ini lebih terfokus pada pemeliharaan dan perawatan jalur, sinyal, dan sarana kereta, bukan untuk menjadi masinis. Para pekerja asing dilatih untuk memindahkan rel, mengoperasikan mesin pemadat balast, dan pekerjaan teknis lainnya. Ini adalah langkah pertama yang realistis bagi warga asing untuk masuk ke industri ini.
  3. Kerjasama Indonesia-Jepang: Dukungan juga datang dari tingkat pemerintah dan asosiasi. Pada Januari 2026, MASKA (Masyarakat Perkeretaapian Indonesia) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Japan Railway Technical Service (JARTS) untuk mempersiapkan kompetensi SDM perkeretaapian Indonesia yang akan dikirim ke Jepang. Ini merupakan sinyal positif bahwa jalur untuk tenaga kerja terampil Indonesia di sektor ini sedang dibangun secara formal.

Kesimpulan: Jalan Masih Panjang, Tapi Ada Harapan

Meskipun peluang untuk menjadi masinis langsung masih sangat kecil, terutama karena persyaratan bahasa dan budaya yang ekstrem, ada harapan baru bagi warga Indonesia. Saat ini, peluang paling realistis adalah melalui jalur:

  • Program Specified Skilled Worker (SSW): Masuk ke Jepang sebagai pekerja terampil, terutama di bidang pemeliharaan perkeretaapian.
  • Pelatihan Vokasi: Mengikuti program pelatihan seperti yang diinisiasi JR East untuk membangun keterampilan teknis yang dibutuhkan.
  • Kerjasama Bilateral: Memanfaatkan peluang yang dibuka oleh kerjasama antara MASKA dan JARTS.

Namun, perlu diingat bahwa persyaratan utama untuk semua jalur ini adalah kemampuan bahasa Jepang yang mumpuni dan pemahaman mendalam tentang standar teknis serta budaya kerja Jepang yang sangat disiplin. Profesi masinis di Jepang masih didominasi oleh warga Jepang, tetapi krisis kekurangan tenaga kerja telah memaksa industri ini untuk membuka pintu bagi tenaga kerja asing yang berkualitas—dan Indonesia berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan peluang ini.

Mau banget belajat Bahasa Jepang dari nol sampai mahir berbicara? atau mau sampai ke latihan mensetsu sebelum beneran interview dengan Perusahaan?Kamu bisa mendaftar kelas di Kaiwa JLC! Klik di sini untuk list program/ kelas. 


Anda Mungkin Juga Menyukainya

© 2026 Kaiwa Japanese Learning Center. All right reserved.

Image by Freepik