Pare, Kediri - Jawa Timur

Kenapa 'Leher' Jadi Simbol Pemecatan di Jepang? Ini Penjelasannya

Thumbnail Kenapa 'Leher' Jadi  Simbol Pemecatan di Jepang?  Ini Penjelasannya

Kenapa 'Leher' Jadi  Simbol Pemecatan di Jepang?  Ini Penjelasannya!

Dalam bahasa Jepang, ada satu kata yang membuat semua pekerja bergidik mendengarnya: "クビ" (kubi). Kanjinya ditulis "首", yang secara harfiah berarti "leher" atau "kepala". Namun, ketika kata ini ditulis dalam huruf katakana, maknanya berubah dari sekadar bagian tubuh menjadi istilah kerja yang dingin: pemecatan atau PHK. Memahami "kubi" tidak hanya membantu kamu menguasai ekspresi bahasa Jepang, tetapi juga membuka wawasan tentang budaya kerja Jepang yang sarat relasi kuasa dan bayangan sejarah di dalamnya.

1. Metafora Kejam di Balik Arti Harfiah

Penggunaan paling langsung dari "kubi" adalah sebagai ungkapan halus atau kadang bernada bercanda untuk menggantikan kata "pemecatan". Contohnya:

  • 「クビになった」 (kubi ni natta) — Secara harfiah "aku menjadi leher", artinya "aku dipecat".
  • 「君はクビだ」 (kimi wa kubi da) — Secara harfiah "kamu adalah leher", artinya "kamu dipecat".

Ungkapan ini memiliki kesamaan semangat dengan bahasa Inggris "get axed" (ditebas dengan kapak) atau "get the sack" (dimasukkan ke karung), yakni sama-sama menggunakan citra kekerasan untuk membungkus dinginnya dunia kerja.

2. Asal-Usul Kata: Mengapa "Leher"?

Kaitan antara "kubi" dan pemecatan memiliki beberapa penjelasan. Meski versinya beragam, intinya tetap mengarah pada simbolisme pemutusan hubungan.

Versi yang paling banyak diterima berkaitan dengan hukuman pada era Edo. Pada zaman Edo, pemancungan adalah hukuman yang nyata dilakukan, di mana leher terpidana dipotong dengan pedang Jepang. Menerapkan gambaran eksekusi ini ke dalam hubungan kerja melahirkan ungkapan 「首を切る」 (kubi o kiru) yang berarti "memecat", yang kemudian disederhanakan menjadi 「クビ」 (kubi) itu sendiri. Ini sangat selaras dengan citra "memutus hubungan" dalam sebuah organisasi.

Versi lain berasal dari dunia kabuki dan bunraku (teater boneka). Boneka bunraku terdiri dari kepala, badan, dan anggota tubuh yang bisa dibongkar-pasang. Setelah pertunjukan selesai, bagian kepala dilepas dan disimpan secara terpisah. Operasi "melepas kepala saat pekerjaan usai" ini dianalogikan dengan berakhirnya hubungan kerja.

Ada pula penjelasan etimologis yang lebih akademis. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada awal zaman Edo, ungkapan umum untuk pemecatan sebenarnya adalah 「暇を出す」 (hima o dasu), dan penggunaan "kubi" untuk pemecatan baru mulai muncul dalam dokumen sekitar zaman Kansei (1789–1801), lalu menyebar luas setelah era Meiji. Dengan kata lain, pergantian dari "hima" ke "kubi" mungkin mencerminkan semacam pergeseran kualitatif dalam hubungan kerja.

3. Ekspresi Turunan: Sebuah "Sistem Metafora Kematian" yang Utuh

Di sekitar "kubi", bahasa Jepang membentuk serangkaian ungkapan idiomatik yang utuh, semuanya berpusat pada citra "leher" sebagai inti:

首を切る | kubi o kiru | Memotong leher | Memecat seseorang
首になる | kubi ni naru | Menjadi leher | Dipecat
首が飛ぶ | kubi ga tobu | Lehernya terbang | Dipecat (sering mengandung nuansa dituntut karena bertanggung jawab)
首が危ない | kubi ga abunai | Lehernya dalam bahaya | Terancam pemecatan
首が繋がる | kubi ga tsunagaru | Lehernya masih tersambung | Pekerjaannya masih aman

Patut dicatat, 「首が飛ぶ」 (kubi ga tobu) membawa nuansa "dipecat karena kesalahan bawahan" — menyiratkan bahwa pemecatan bukan semata soal kemampuan, melainkan bisa berasal dari logika akuntabilitas internal organisasi.

4. Realitas Hukum: Mengucapkan "Kubi" Mudah, Memecat Sungguhan Sulit

Meski kata "kubi" sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan drama televisi, hukum ketenagakerjaan Jepang menetapkan ambang yang cukup tinggi untuk pemecatan yang sebenarnya. Pekerja tidak bisa langsung menerima kenyataan kehilangan pekerjaan hanya karena atasan mengucapkan "kubi" secara lisan.

Berdasarkan Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan Jepang (労働基準法 / Rōdō Kijunhō), pemecatan memerlukan syarat berikut:

Kewajiban pemberitahuan pemecatan: Atasan harus memberi tahu secara tertulis 30 hari sebelumnya, atau membayar 30 hari upah rata-rata sebagai kompensasi.

Pembatasan penyalahgunaan hak memecat: Jika pemecatan tidak memiliki "alasan yang objektif dan masuk akal" serta tidak sesuai dengan "kepatutan menurut pandangan umum masyarakat", maka pemecatan tersebut tidak sah. Untuk pemecatan restrukturisasi (整理解雇 / seiri kaiko, PHK karena alasan usaha), yurisprudensi menetapkan empat syarat yang terkenal:

  1. Kebutuhan untuk mengurangi jumlah karyawan
  2. Upaya menghindari pemecatan (seperti relokasi, membuka pendaftaran pensiun sukarela)
  3. Kewajaran pemilihan orang yang dipecat
  4. Konsultasi yang memadai dengan pekerja

Oleh karena itu, jika atasan hanya mengumumkan "kubi" secara lisan, secara hukum pekerja belum tentu kehilangan pekerjaannya. Langkah yang benar adalah menyatakan dengan jelas keinginan untuk terus bekerja, tetap masuk kerja seperti biasa, dan segera berkonsultasi dengan Kantor Inspeksi Standar Ketenagakerjaan atau pengacara. Faktanya, di pengadilan Jepang memang ada putusan yang menyatakan bahwa ketika atasan tetap diam atau menjawab dengan ambigu saat karyawan bertanya "首ですか" (kubi desu ka — apakah ini pemecatan?), sikap tersebut dianggap sebagai pernyataan kehendak untuk memecat.

5. Pengamatan Budaya: Bobot Sebuah Kata

Mengapa "kubi" begitu meresap? Mungkin justru karena kata ini membawa dampak emosional yang lebih kuat dibandingkan istilah netral seperti "解雇" (kaiko — pemecatan) atau "退職" (taishoku — pengunduran diri). Ia mempertahankan sisa-sisa kekerasan pra-modern, namun dalam percakapan kantor modern memperoleh kesan ringan yang nyaris seperti gurauan — kontras inilah yang justru mencerminkan nuansa kelam ketidaksetaraan kuasa dalam dunia kerja Jepang.

Bagi mereka yang bekerja di Jepang atau berurusan dengan perusahaan Jepang, memahami "kubi" bukan sekadar soal mengerti satu istilah slang, melainkan agar ketika mendengar kata itu, kamu dapat membedakan mana yang sekadar luapan emosi, mana yang merupakan tindakan pemecatan secara hukum, serta hak apa yang kamu miliki.

Contoh Kaiwa (Percakapan) Menggunakan Istilah "Kubi" dalam Dunia Kerja Jepang

Berikut beberapa contoh percakapan yang menggunakan istilah クビ (kubi) dalam berbagai situasi kerja di Jepang, lengkap dengan cara baca dan terjemahannya.

Kaiwa 1: Gosip di Kantor (Situasi Santai)

Situasi: Dua karyawan sedang berbicara pelan di pantry kantor tentang rekan mereka yang hilang dari kantor.

Aさん (A-san): ねえ、田中さん、最近見ないよね。
(Nee, Tanaka-san, saikin minai yo ne.)
Hei, Tanaka-san, akhir-akhir ini dia tidak kelihatan ya.

Bさん (B-san): うん、聞いた?先週、部長に呼ばれて…
(Un, kiita? Senshuu, buchou ni yobarete…)
Iya, kamu dengar? Minggu lalu dia dipanggil manajer…

Aさん (A-san): まさか、クビになったの?
(Masaka, kubi ni natta no?)
Jangan-jangan, dia dipecat?

Bさん (B-san): うん…首になったらしいよ。
(Un… kubi ni natta rashii yo.)
Iya… katanya dia dipecat.

Aさん (A-san): えー、まじで?怖すぎる…
(Ee, maji de? Kowasugiru…)
Hah, serius? Serem banget…

Kaiwa 2: Peringatan Atasan (Situasi Tegang)

Situasi: Seorang manajer sedang memperingatkan bawahannya yang sering datang terlambat.

部長 (Buchou): 山田君、ちょっといい?
(Yamada-kun, chotto ii?)
Yamada, boleh bicara sebentar?

山田 (Yamada): はい、何でしょうか。
(Hai, nan deshou ka.)
Ya, ada apa ya?

部長 (Buchou): 最近、遅刻が多いよね。このままだと、首が飛ぶよ。
(Saikin, chikoku ga ooi yo ne. Kono mama da to, kubi ga tobu yo.)
Akhir-akhir ini kamu sering terlambat. Kalau terus begini, lehermu bisa terbang lho.

山田 (Yamada): す、すみません!気をつけます!
(Su, sumimasen! Ki o tsukemasu!)
Ma-maaf! Saya akan berhati-hati!

部長 (Buchou): 次はないと思ってね。
(Tsugi wa nai to omotte ne.)
Anggap saja tidak ada kesempatan berikutnya.

Catatan: 「首が飛ぶ」 (kubi ga tobu) di sini bukan berarti benar-benar dipecat saat itu, tapi peringatan keras bahwa posisinya terancam.

Kaiwa 3: Antara Teman Kerja (Situasi Emosional)

Situasi: Seorang karyawan menelepon temannya setelah dipanggil HRD.

健太 (Kenta): もしもし、俺だ。
(Moshimoshi, ore da.)
Halo, ini aku.

優子 (Yuuko): どうしたの?声が暗いよ。
(Doushita no? Koe ga kurai yo.)
Kenapa? Suaramu sedih.

健太 (Kenta): 俺…クビになった。
(Ore… kubi ni natta.)
Aku… dipecat.

優子 (Yuuko): ええっ!?本当に?
(Eee!? Hontou ni?)
Hah!? Serius?

健太 (Kenta): うん。会社が傾いてて、整理解雇だって。
(Un. Kaisha ga katamuitete, seiri kaiko datte.)
Iya. Perusahaannya sedang bangkrut, katanya PHK restrukturisasi.

優子 (Yuuko): そんな…でも、首を切るなら30日前に予告しないと違法でしょ?
(Sonna… demo, kubi o kiru nara sanjuunichi mae ni yokoku shinai to ihou desho?)
Ya ampun… tapi, kalau memecat kan harus ada pemberitahuan 30 hari sebelumnya, itu ilegal kan?

健太 (Kenta): それが、今日言われたんだよ。相談できるところ、あるかな?
(Sore ga, kyou iwareta n da yo. Soudan dekiru tokoro, aru kana?)
Nah itu masalahnya, hari ini baru diberitahu. Ada tempat untuk konsultasi nggak ya?

優子 (Yuuko): 労働基準監督署に行ってみたら?一人で抱え込まないで。
(Roudou kijun kantokusho ni itte mitara? Hitori de kakaekomanai de.)
Coba pergi ke Kantor Inspeksi Standar Ketenagakerjaan? Jangan ditanggung sendiri.

Catatan: 「整理解雇」 (seiri kaiko) = PHK karena alasan restrukturisasi perusahaan. Ini termasuk kasus yang paling dilindungi hukum di Jepang.

Kaiwa 4: Bercanda Sesama Kolega (Situasi Santai)

Situasi: Dua rekan kerja bercanda setelah rapat yang melelahkan.

佐藤 (Satou): はあ…今日の会議、長すぎたな。
(Haa… kyou no kaigi, nagasugita na.)
Hah… rapat hari ini kelamaan ya.

鈴木 (Suzuki): ほんと。部長の話、1時間もあったよ。
(Honto. Buchou no hanashi, ichijikan mo atta yo.)
Bener. Omongan manajer sampai satu jam.

佐藤 (Satou): あの会議中、居眠りしたらクビだと思ったよ。
(Ano kaigi chuu, inemuri shitara kubi da to omotta yo.)
Saat rapat itu, aku pikir kalau aku ketiduran aku bakal dipecat.

鈴木 (Suzuki): ははは、首が繋がってよかったな。
(Hahaha, kubi ga tsunagatte yokatta na.)
Hahaha, syukurlah lehermu masih tersambung.

佐藤 (Satou): 本当だよ。明日も首が繋がってるといいけど。
(Hontou da yo. Ashita mo kubi ga tsunagatteru to ii kedo.)
Bener banget. Semoga besok leherku masih tersambung juga.

Catatan: 「首が繋がる」 (kubi ga tsunagaru) = masih punya pekerjaan. Ungkapan ini sering dipakai bercanda tapi tetap mengandung nuansa serius.

Kaiwa 5: Wawancara / Cerita Pengalaman (Situasi Formal)

Situasi: Seseorang menceritakan pengalaman di wawancara kerja.

面接官 (Mensetsukan): 前の会社はなぜ辞めたんですか?
(Mae no kaisha wa naze yameta n desu ka?)
Kenapa Anda berhenti dari perusahaan sebelumnya?

応募者 (Oubousha): 実は…前の会社でクビになりまして。
(Jitsu wa… mae no kaisha de kubi ni narimashite.)
Sebenarnya… saya dipecat dari perusahaan sebelumnya.

面接官 (Mensetsukan): そうですか。理由を聞いてもいいですか?
(Sou desu ka. Riyuu o kiite mo ii desu ka?)
Begitu ya. Boleh saya tanya alasannya?

応募者 (Oubousha): はい。会社の業績悪化による整理解雇でした。ただ、その経験から…
(Hai. Kaisha no gyouseki akka ni yoru seiri kaiko deshita. Tada, sono keiken kara…)
Ya. Itu PHK akibat memburuknya kinerja perusahaan. Namun, dari pengalaman itu…

Catatan: Dalam wawancara formal, sebaiknya hindari kata "クビ" yang terkesan kasar, dan gunakan istilah netral seperti 「会社都合により退職」 (kaisha tsugou ni yori taishoku — mengundurkan diri karena alasan perusahaan).

Ringkasan Ekspresi dalam Kaiwa

クビになった | kubi ni natta | (Aku) dipecat
首になった | kubi ni natta | (Dia) dipecat (lebih formal)
首が飛ぶ | kubi ga tobu | Kena pecat / terancam pecat
首を切る | kubi o kiru | Memecat (dari sisi atasan)
首が繋がる | kubi ga tsunagaru | Masih punya kerja
整理解雇 | seiri kaiko | PHK restrukturisasi
会社都合 | kaisha tsugou | Alasan dari pihak perusahaan

Tips Praktis

  1. Dalam percakapan santai dengan kolega dekat, "クビ" wajar dipakai.
  2. Dalam situasi formal (wawancara, surat resmi), hindari "クビ" — gunakan 「退職」 (taishoku) atau 「契約終了」 (keiyaku shuuryou).
  3. Jika kamu yang mengucapkan ke atasan, hati-hati — bisa dianggap tidak sopan.
  4. Jika kamu mendengarnya dari atasan, jangan panik dulu — pastikan apakah itu ancaman, candaan, atau tindakan hukum yang sah.

Mau mahir kaiwa dengan banyak latihan berbicara di kelas? atau mau bekerja di Jepang tapi masih grogi ketika wawancara? Kamu bisa mendaftar kelas Kaiwa maupun Pra Mensetsu di Kaiwa JLC! Klik di sini untuk list program/ kelas. 


Anda Mungkin Juga Menyukainya

© 2026 Kaiwa Japanese Learning Center. All right reserved.

Image by Freepik